Diskusi Antara Kelompok Perempuan Dengan PTPN XIII

 

Pak Gustianto sedang menyampaikan materi tentang bagaimana cara mengakses dana CSR
Pak Gabriel Pius sedang menyampaikan materi tentang bagaimana cara mengakses dana CSR

Sesuai dengan judul di atas  Perkumpulan PENA telah memfasilitasi para kelompok ibu-ibu yang berjumlah 15 kelompok dari 5 kabupaten dengan perwakilan kelompok masing-masing datang ke kegiatan ini untuk memahami dan mempelajari apa itu dana CSR serta cara mengakses dana CSR tersebut Dengan mengundang Narasumber dari pihak PTPN XIII diharapkan dengan kesempatan ini para kelompok ibu-ibu dapat menggali sedalam-dalam nya info mengenai Dana CSR itu. Pak Gustianto mengungkapkan Bahwa Dana csr ada jika PTPN XIII mengalami keuntungan, dan dari keuntungan tersebut 2 persen adalah dana CSR… karena kondisi PTPN XIII saat ini mengalami kerugian…. Jadi untuk tahun 2015 ini di tiadakan dana csr. Namun masih ada harapan yaitu dengan PKBL (Program kemitraan dan bina lingkungan) PKBL merupakan Kredit lunak. Dengan kredit lunak ini diharapkan kelompok ibu- ibu dapat mengaksesnya sebagai pengganti dana CSR. (YKT)

Direktur Perkumpulan PENA Melatih Pembukuan dengan Kelompok Usaha Keripik

Direktur Perkumpulan PENA Rinto, S.sos. sedang menyampaikan materi tentang pembuatan laporan hasil usaha dengan Kelompok Ibu KWT Anggrek Kecamatan Jelimpo (Kab Landak)
Direktur Perkumpulan PENA Rinto, S.sos. sedang menyampaikan materi tentang pembuatan Laporan Pembukuan hasil usaha dengan Kelompok Ibu KWT Anggrek Kecamatan Jelimpo (Kab Landak)

Dalam Program Ekonomi Perkumpulan PENA sudah Menyiapkan Langkah-langkah tertentu untuk membina kelompok Ibu yang tersebar di lima kabupaten yaitu, kab, sintang, Melawi, Sanggau, Landak, dan Bengkayang. untuk meningkatkan kapasitas Kelompok Perkumpulan PENA mengadakan Pelatihan pembukuan, dengan pelatihan ini di harapkan kelompok Ibu-ibu Binaan PENA dapat membuat laporan hasil usaha keripik mereka.

dalam hal ini kelompok ibu-ibu biasanya sulit dalam memahami prosedur pembuatan laporan. tidak bisa di pungkiri pembuatan laporan ini memang agak sulit apalagi mengingat kelompok ibu-ibu yang rata-rata usianya di atas 30 tahun. untuk menekan hal itu maka Rinto, S. Sos mengatakan perlunya latihan secara terus menerus agar dapat memahami mekanisme pembuatan laporan usaha. (YKT)